AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM
Makna Simbolik Tradisi Malam Satu Suro Di dusun Gemblung Kulon Desa Wonosari Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar Dalam Perspektif Teori Simbol Mircea Eliade
Penelitian ini membahas mengenai tradisi malam satu suro yang
dilaksanakan Oleh masyarakat dusun gemblung kulon, desa wonosari
gondangrejo, kabupaten karanganyar dalam perspektif teori simbol mircea eliade.
Tradisi ini merupakan tradisi sakral yang dilaksanakan Oleh masyarakat Jawa,
tradisi ini mengandung makna spiritual yang mendalam sebagai awal tahun baru
dalam kalender Jawa, sekaligus refleksi religius masyarakat Jawa yang memadukan
nilai-nilai spiritual dan kultur dalam menjaga harmoni antara dunia nyata dan alam
ghaib. Rumusan masalah yang memuat dalam penelitian ini yaitu : l). Apa Makna
Simbolik dari Tradisi Malam Satu Suro di Dusun Gemblung Kulon, Desa Wonosari,
Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar teori simbol Mircea
Eliade dan 2). Bagaimana Persepsi masyarakat di Dusun Gemblung Kulon, Desa
Wonosari, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar terhadap tradisi
Malam Satu Suro. Dengan Tujuan Penelitian yaitu : l) . Mengetahui makna
simbolik dari tradisi malam Satu suro di dusun Gemblung Kulon, Desa Wonosari,
Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar perspektif teori simbol Mircea
Eliade dan 2). Mengetahui masyarakat di Dusun Gemblung Kulon, Desa
Wonosari, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar terhadap tradisi
Malam Satu Suro.
Jenis Penelitian ini adalah lapangan (field research) dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data yaitu dengan Teknik
Wawancara, Observasi dan Dokumentasi. Serta analisis data yaitu menggunakan
metode Deskriptif, metode Verstehen dan Interpretasi.
Hasil ini yaitu I Makna simbolik dari tradisi Malam Satu Suro
di Dusun Gemblung Kulon, desa Wonosari, kecamatan Gondangrejo, kabupaten
Karanganyar perspektif teori simbol Mircea Eliade yaitu adanya keterhubungan
antara yang sakral dan yang profan dengan melalui proses yang disebut hiemphany
yaitu dimana sesuatu yang sakral ini memanifestasikan kedalam objek profan
dengan tidak menghilangkan sifat dasar aslinya. Dimana yang sakral menampakkan
diri melalui yang profan yaitu simbol-simbol ritual yang ada pada ubarampe tradisi
malam satu suro seperti Ingkung Ayam, Nasi Uduk, Nasi Golong, Buah Pisang
Jajanan Pasar, Kembang Sekarsetaman, dan Dupa sebagai media penghubung
kepada sesuatu yang trasenden dan memiliki makna akan arti sebuah kehidulMn
menuju kesucian, kesejahteraan hidup, akan keharuman Ilmu dan
menjadikan persatuan dengan alam semesta, Serta sebagai refleksi adanya
keseimbangan hidup yang harus dijaga dengan menjalani kehidupan yang benar
sebagai mahkluk ciptaan Tuhan. 2). Persepsi masyarakat di Dusun Gemblung
Kulon, Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar,
terhadap suatu tradisi malam satu suro mereka mempresepsikan ini sebagai malam-
malam yang kesakralannya cukup untuk melakukan kegiatan spiritual agar
dapat melakukan pendekatan kepada sang pencipta dengan melakukan malam
tirakatan dan mengirimkan doa-doa kepada orang-orang terdahulu agar diberi
ketenangan. Malam yang penuh akan kesunyian menjadikan waktu yang tepat
untuk memanjatkan doa-doa dan intropeksi diri untuk menjadikan manusia lebih
baik dalam menjalani kehidupan untuk kedepannya yang selalu dalam lindungan
Tuhan.
Kata Kunci : Tradisi Malam Satu Suro, Makna Simbolik, Mircea Eliade.
Ketersediaan
| SK202610041.1 | 2x3 FAT m c.1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x3) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x3 FAT m c.1
|
| Penerbit | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta., 2026 |
| Deskripsi Fisik |
145 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
2x3 FAT m c.1
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
Zidni Fatmawati
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






