Image of Emotional well-being Remaja Akhir Dalam Pengasuhan Keluarga Muslim Single parent

PSIKOLOGI ISLAM

Emotional well-being Remaja Akhir Dalam Pengasuhan Keluarga Muslim Single parent



Keluarga single parent akibat kematian ayah bukan sekadar perubahan struktur,
melainkan juga mengubah cara remaja akhir merasakan, memaknai, dan menjalani
hidup. Kehilangan figur ayah membuat mereka harus menghadapi duka sekaligus
menyesuaikan diri dengan peran dan tanggung jawab yang bertambah dalam
keluarga. Tekanan emosional, beban finansial, dan tuntutan keluarga hadir
bersamaan, sementara proses penyesuaian diri masih terus berlangsung. Dalam
konteks keluarga muslim, pengalaman ini tidak berdiri sendiri karena nilai-nilai
keislaman turut mewarnai cara remaja bertahan dan memaknai kondisi yang
mereka hadapi. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman emotional wellbeing
remaja
akhir
yang
dibesarkan
dalam
keluarga
muslim
single
parent.


Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi
dan teknik analisis Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Subjek
penelitian terdiri dari tiga remaja akhir laki-laki berusia 18–21 tahun dalam
keluarga muslim single parent. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara semi terstruktur dan dokumentasi. Keabsahan data dijaga melalui
triangulasi sumber dan teori. Analisis data dilakukan secara interpretatif untuk
memahami pengalaman subjektif informan.
Hasil analisis data menghasilkan lima tema superordinat emotional well-being
yang saling berkaitan, yaitu regulasi emosi dan proses adaptasi terhadap
kehilangan, tekanan psikologis dalam menjalani peran sebagai anak dalam
keluarga single parent, strategi coping dalam menghadapi tekanan kehidupan,
peran keluarga sebagai sumber makna dan tanggung jawab, serta perkembangan
diri dan orientasi masa depan sebagai bentuk kesejahteraan emosional. Temuan
penelitian menunjukkan bahwa kehilangan figur ayah dan meningkatnya tanggung
jawab keluarga memunculkan kesedihan, kecemasan, dan overthinking pada
ketiga informan. Namun, mereka mampu mempertahankan emotional well-being
melalui rasa syukur, harapan, motivasi hidup, kedekatan emosional dengan ibu,
serta kemampuan memaknai pengalaman hidup. Religiusitas, dukungan keluarga,
dan strategi coping yang adaptif menjadi faktor penting dalam menjaga
kesejahteraan emosional. Selain itu, pengalaman hidup dalam keluarga Muslim
single parent turut mendorong perkembangan diri, kemandirian, dan orientasi
masa depan pada ketiga informan. Implikasi penelitian ini menunjukkan
pentingnya pendampingan psikologis dan psikoedukasi bagi remaja dalam
keluarga single parent dengan mengoptimalkan peran keluarga dan nilai-nilai
religius sebagai sumber dukungan emosional.
Kata Kunci: emotional well-being, remaja akhir, keluarga muslim, single parent.


Ketersediaan

SK202670104.12x7.150 ARR e c.1PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x7.150)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
2x7.150 ARR e c.1
Penerbit Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta.,
Deskripsi Fisik
246 hlm, 30 cm
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
2x7.150 ARR e c.1
Tipe Isi
Text
Tipe Media
Text
Tipe Pembawa
Visual
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas


Akses Repositori Institusi

Jelajahi skripsi, tesis, dan karya ilmiah civitas dalam satu portal repositori.