MANAJEMEN DAKWAH
Konstruksi Simbolis Gelar Haji dan Hajah Pasca-haji Di Dusun Ngwaru Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar
Gelar “Haji” dan “Hajah” pada umumnya merupakan sebutan yang disematkan
kepada seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji. Dalam perkembangan kehidupan
sosial masyarakat, penggunaan gelar tersebut tidak hanya dimaknai sebagai penanda
pelaksanaan ibadah, tetapi juga mengalami perluasan makna sebagai simbol religius,
penghormatan, dan status sosial. Fenomena ini juga terjadi pada masyarakat Dusun
Ngwaru, di mana gelar “Haji” dan “Hajah” digunakan dalam kehidupan sehari-hari
sebagai bentuk pengakuan sosial terhadap individu yang telah menunaikan ibadah haji.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis makna penggunaan gelar
“Haji” dan “Hajah” serta perannya dalam pembentukan identitas sosial dan relasi
penghormatan dalam masyarakat Dusun Ngwaru. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan validitas data
menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Sumber data terdiri dari data primer, yaitu
jemaah haji, tokoh agama, dan masyarakat, serta data sekunder berupa dokumentasi.
Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna penggunaan gelar “Haji” dan
“Hajah” di Dusun Ngwaru tidak hanya sebagai penanda pelaksanaan ibadah, tetapi juga
sebagai simbol sosial yang mengandung makna religius, penghormatan, dan identitas
sosial. Makna religius tercermin dari anggapan bahwa individu yang telah berhaji
memiliki tingkat keimanan dan ketaatan yang lebih baik. Makna penghormatan terlihat
dari sikap masyarakat yang lebih sopan serta penggunaan gelar dalam interaksi sosial.
Makna identitas sosial tampak dari bagaimana individu yang telah berhaji memandang
dirinya sebagai bagian dari kelompok sosial tertentu yang memiliki tanggung jawab
moral dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, dalam proses kategorisasi sosial,
masyarakat membedakan individu berdasarkan status haji; dalam identifikasi sosial,
individu masyarakatnya membentuk kesadaran diri untuk menjaga sikap dan perilaku;
serta dalam perbandingan sosial, jemaah haji cenderung memperoleh penghormatan,
kepercayaan, dan keterlibatan yang lebih besar dibandingkan dengan yang belum berhaji.
Namun demikian, makna dan peran tersebut bersifat dinamis serta dipengaruhi oleh sikap
individu dan perkembangan sosial masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan
dapat memaknai gelar “Haji” dan “Hajah” sebagai bentuk keteladanan dan tanggung
jawab moral dalam kehidupan sosial, bukan semata-mata sebagai simbol status sosial.
Kata kunci: Makna, Gelar Haji dan Hajah, Identitas Sosial
Ketersediaan
| SK202650065.1 | 2x6.3 JAS k c.1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x6.3) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x6.3 JAS k c.1
|
| Penerbit | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta., 2026 |
| Deskripsi Fisik |
180 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
2x6.3 JAS k c.1
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
Deilla Putri Aliffiah Jasmin
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






