ILMU AL QUR'AN DAN TAFSIR
Perspektif Qirā’ah Mubādalah Terhadap Konsep Ulil Amri Dalam Qs. An-Nisā Ayat 59
Relasi antara ulil amri dan masyarakat dalam QS. An-Nisā ayat 59
merupakan fondasi penting dalam membangun tatanan sosial dan kepemimpinan
dalam Islam. Namun, dalam praktiknya, relasi tersebut sering dipahami secara
hierarkis dan satu arah, sehingga ketaatan kepada ulil amri cenderung dimaknai
sebagai kepatuhan mutlak tanpa diimbangi dengan tuntutan keadilan. Melalui
persoalan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran QS. An-Nisā
ayat 59 tentang konsep ulil amri serta menganalisis relasi timbal balik antara ulil
amri dan masyarakat melalui perspektif qirā’ah mubādalah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian
kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui
dokumentasi dengan menelaah sumber-sumber tertulis, berupa Al-Qur’an, kitabkitab
tafsir
klasik
hingga
kontemporer,
buku,
artikel
jurnal,
dan
karya
ilmiah
yang
relevan.
Analisis
data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan
model analisis Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data,
serta penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep ulil amri dalam QS. An-Nisā
ayat 59, sebagaimana dipahami dalam tafsir klasik hingga kontemporer, mengalami
transisi makna yang signifikan. Ulil amri tidak terbatas pada pemimpin politik atau
penguasa formal, tetapi mencakup semua pihak yang memiliki otoritas dan
wewenang dalam mengelola urusan publik, baik dalam skala besar maupun kecil.
Melalui perspektif qirā’ah mubādalah, relasi ketaatan antara masyarakat dan ulil
amri dipahami sebagai hubungan timbal balik yang saling terhubung. Ketaatan
masyarakat kepada ulil amri tidak dipahami sebagai kepatuhan tanpa batas,
melainkan sebagai ketaatan yang bersyarat dan berada dalam koridor nilai keadilan,
amanah, dan kemaslahatan. Sebaliknya, ulil amri tidak hanya diposisikan sebagai
pihak yang wajib ditaati, tetapi juga sebagai subjek moral yang memiliki kewajiban
untuk menjalankan kekuasaan secara adil, partisipatif, dan bertanggung jawab.
Temuan ini menegaskan bahwa konsep ulil amri tidak terbatas pada otoritas formal
negara, melainkan mencakup setiap pemegang amanah kepemimpinan dalam
berbagai level kehidupan. Dengan demikian, penafsiran QS. An-Nisā ayat 59
perspektif qirā’ah mubādalah menghadirkan model kepemimpinan yang
berorientasi pada relasi mutualistik, mencegah otoritarianisme, serta relevan
dengan dinamika sosial-budaya masyarakat kontemporer.
Kata kunci: Ulil Amri, QS. An-Nisa ayat 59, Qirā’ah Mubādalah
Ketersediaan
| SK202620057.1 | 2x1 HAS p c.1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x1) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x1 HAS p c.1
|
| Penerbit | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta., 2026 |
| Deskripsi Fisik |
88 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
2x1 HAS p c.1
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
Mohamad Ridwan Hasbulloh
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






