BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN RASIONAL EMOTIF BEHAVIOR THERAPY (REBT) DALAM MENGEMBANGKAN RESILIENSI PADA REMAJA BROKEN HOME DI DUKUH DIMORO KLATEN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya perkembangan resiliensi pada
remaja broken home akibat perceraian orang tua, yang berkaitan dengan kemampuan
dalam mengelola emosi, membangun optimisme, menumbuhkan empati, serta
memperkuat keyakinan diri dalam menghadapi permasalahan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui penerapan konseling kelompok dengan pendekatan Rational
Emotive Behavior Therapy (REBT) dalam mengembangkan resiliensi remaja broken
home, serta melihat perubahan yang terjadi setelah diberikan intervensi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian
Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK). Subjek penelitian adalah remaja broken
home di Dukuh Dimoro, Klaten, yang mengalami dinamika dalam perkembangan
resiliensi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Proses penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus, di mana setiap siklus
meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada siklus I, konseling
kelompok dengan pendekatan REBT difokuskan pada pengenalan masalah,
pengungkapan perasaan, serta identifikasi pikiran irasional terkait kondisi broken
home. Pada siklus II, subjek mulai diarahkan untuk menantang dan mengganti pikiran
irasional dengan pemikiran yang lebih rasional serta belajar mengelola emosi secara
lebih adaptif. Pada siklus III, konseling difokuskan pada penguatan pola pikir rasional,
peningkatan kepercayaan diri, optimisme, serta penerapan perilaku positif dalam
kehidupan sehari-hari. Analisis data dilakukan dengan membandingkan kondisi
sebelum dan sesudah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konseling kelompok dengan
pendekatan REBT memberikan perkembangan resiliensi secara bertahap pada setiap
siklus. Pada siklus I, subjek mulai mampu mengungkapkan perasaan sedih, kecewa,
dan marah yang selama ini dipendam, serta mulai menyadari adanya pikiran irasional
terhadap kondisi keluarga yang dialami. Pada siklus II, subjek mulai mampu mengelola
emosi dengan lebih baik, mengurangi pikiran negatif, berani berinteraksi dengan
lingkungan, serta mulai memiliki pandangan yang lebih positif terhadap diri dan masa
depannya. Pada siklus III, subjek menunjukkan perkembangan dalam menghadapi
permasalahan secara lebih rasional, lebih percaya diri, mampu mengambil keputusan
dengan lebih baik, menunjukkan sikap optimis, serta mampu menjalin hubungan sosial
dan empati secara lebih adaptif. Secara keseluruhan, penerapan konseling kelompok
dengan pendekatan REBT dapat mengembangkan aspek regulasi emosi, optimisme,
empati, dan self-efficacy pada remaja broken home.
Kata Kunci: REBT, Resiliensi, Remaja Broken Home, Konseling Kelompok
Ketersediaan
| SK202630124.1 | 2x7.15 SAP k c.1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x7.15) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x7.15 SAP k c.1
|
| Penerbit | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta., 2026 |
| Deskripsi Fisik |
308 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
2x7.15 SAP k c.1
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






