BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
HUBUNGAN ANTARA LITERASI KESEHATAN MENTAL DENGAN PERILAKU SELF-DIAGNOSE PADA REMAJA DI DESA GULI KECAMATAN NOGOSARI
Meningkatnya perhatian remaja terhadap isu kesehatan mental belum
diimbangi dengan kemampuan yang memadai dalam mengolah informasi secara
tepat. Kemudahan akses informasi kesehatan mental justru memicu maraknya
fenomena self-diagnose di kalangan remaja, termasuk di wilayah pedesaan yang
minim fasilitas layanan profesional. Ketidakmampuan menyaring informasi secara
valid ini sangat berkaitan dengan tingkat literasi kesehatan mental individu yang
mencakup aspek pengetahuan, keyakinan, dan pemanfaatan sumber bantuan.
Kesenjangan tersebut tampak dari data pra-penelitian di lapangan yang
menunjukkan bahwa meskipun seluruh remaja memahami pentingnya diagnosis
profesional, masih terdapat remaja yang melakukan penilaian psikologis mandiri
dan menunda pencarian bantuan ahli professional. Oleh karena itu, Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara literasi kesehatan mental dengan
perilaku self-diagnose pada remaja.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode
korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja usia 15-19 tahun di Desa
Guli, dengan Teknik cluster random sampling dan rumus slovin 5% diperoleh
sampel sebanyak 225 remaja. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan
kuesioner. Uji instrumen penelitian ini menggunakan uji validitas dan uji
reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan uji prasyarat yang terdiri dari uji
normalitas dan uji linieritas. Serta menggunakan uji hipotesis menggunakan
pearson product moment yang diolah menggunakan software IBM SPSS versi 27.0.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental remaja di
Desa Guli mayoritas berada pada kategori sedang (64,4%), di mana aspek
knowledge, aspek belief-oriented, dan aspek resource-oriented telah cukup dimiliki
namun belum optimal. Kondisi ini berjalan beriringan dengan perilaku selfdiagnose
yang
secara
umum
juga
berada
pada
kategori
sedang
(59,1%),
yang
berarti
informasi
kesehatan mental memicu respons perilaku remaja untuk mendiagnosis
diri secara mandiri atas ketidaknyamanan emosional yang dirasakan, melalui
pencocokan gejala dengan informasi, dan membawa dampak (effect) bagi remaja.
Hasil analisis korelasi Pearson Product Moment antara Literasi Kesehatan Mental
dan Perilaku Self-Diagnose memperlihatkan nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05,
dengan nilai korelasi 0,834 berada pada interval 0,80 – 1,000 yang artinya korelasi
sangat kuat. Dengan ini, hipotesis alternatif (Ha), yang menyatakan adanya
hubungan positif dan signifikan antara Literasi Kesehatan Mental dengan Perilaku
Self-Diagnose pada remaja di Desa Guli, diterima.
Kata Kunci: Literasi Kesehatan Mental, Perilaku Self-Diagnose
Ketersediaan
| SK202630108.1 | 2x7.15 OKT h c.1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x7.15) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x7.15 OKT h c.1
|
| Penerbit | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta., 2026 |
| Deskripsi Fisik |
165 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
2x7.15 OKT h c.1
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
Rizky Ayu Oktaviani
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






