Image of MODERNISASI TRADISI SIRAMAN PERNIKAHAN ADAT JAWA OLEH WEDDING ORGANIZER MAHARDIKA SURAKARTA DALAM PERSPEKTIF DIKOTOMI SAKRAL DAN PROFAN ÉMILE DURKHEIM

AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM

MODERNISASI TRADISI SIRAMAN PERNIKAHAN ADAT JAWA OLEH WEDDING ORGANIZER MAHARDIKA SURAKARTA DALAM PERSPEKTIF DIKOTOMI SAKRAL DAN PROFAN ÉMILE DURKHEIM



Tradisi siraman merupakan salah satu ritual adat Jawa yang dilaksanakan sebelum
pernikahan sebagai bentuk penyucian diri, permohonan doa restu, serta simbol
kesiapan calon pengantin memasuki kehidupan rumah tangga. Tradisi ini masih
dilestarikan oleh masyarakat Jawa dan terus menjadi bagian dari rangkaian adat
pernikahan hingga saat ini. Dalam perkembangannya, tradisi siraman mengalami
modernisasi melalui peran Wedding Organizer Mahardika Surakarta yang
mengemas prosesi menjadi lebih praktis, terorganisir, dan estetis tanpa
meninggalkan unsur inti tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk
modernisasi tradisi siraman oleh Wedding Organizer Mahardika Surakarta serta
menganalisis unsur sakral dan profan dalam tradisi siraman perspektif Emile
Durkheim.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan
kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan
pihak Wedding Organizer Mahardika Surakarta, ibu adat, tokoh masyarakat, dan
pelaku tradisi siraman. Analisis data dilakukan secara deskriptif, verstehen, dan
interpretatif dengan menggunakan teori sakralitas dan profan Emile Durkheim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tradisi siraman yang dilaksanakan oleh
Wedding Organizer Mahardika Surakarta telah mengalami modernisasi pada aspek
dekorasi, dokumentasi digital, penggunaan teknologi, serta pengelolaan acara yang
lebih praktis dan terorganisir. Meskipun demikian, unsur inti tradisi seperti
sungkeman, doa, siraman inti, wudhu, dan pecah kendi tetap dipertahankan sebagai
bagian sakral dalam prosesi adat Jawa. (2) Perspektif Emile Durkheim
menunjukkan bahwa unsur sakral dalam tradisi siraman terletak pada doa, restu
keluarga, simbol penyucian diri, dan penghormatan terhadap tradisi, sedangkan
unsur profan terlihat pada aspek hiburan, estetika dekorasi, dokumentasi media
sosial, dan pengemasan acara modern oleh WO Mahardika Surakarta. Dengan
demikian, modernisasi tradisi siraman tidak menghilangkan nilai sakral, melainkan
menjadi bentuk adaptasi budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Kata Kunci: Modernisasi, Tradisi Siraman, Sakralitas-Profan, Émile Durkheim


Ketersediaan

SK202610031.12x3 WID m c.1PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x3)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
2x3 WID m c.1
Penerbit Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta.,
Deskripsi Fisik
125 hlm, 30 cm
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
2x3 WID m c.1
Tipe Isi
Text
Tipe Media
Text
Tipe Pembawa
Visual
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas


Akses Repositori Institusi

Jelajahi skripsi, tesis, dan karya ilmiah civitas dalam satu portal repositori.