Image of MAKNA SIMBOLIK PEMASANGAN BLEKETEPE DALAM PROSESI PERNIKAHAN ADAT JAWA DI DESA MANGGUNG KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI (Perspektif Teori Semiotika Roland Barthes)

AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM

MAKNA SIMBOLIK PEMASANGAN BLEKETEPE DALAM PROSESI PERNIKAHAN ADAT JAWA DI DESA MANGGUNG KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI (Perspektif Teori Semiotika Roland Barthes)



Tradisi pemasangan bleketepe merupakan salah satu tradisi yang terdapat
dalam upacara pernikahan khususnya di Desa Manggung, Kecamatan Ngemplak,
Kabupaten Boyolali. Tradisi ini dilaksanakan saat ada acara pernikahan dan
merupakan suatu warisan dari nenek moyang atau leluhur. Tradisi ini masih
bertahan dan dilaksanakan hingga saat ini, karena didalamnya terdapat simbolsimbol
tersembunyi.
Rumusan
masalah
dalam
penelitian
ini
adalah
(1)
Bagaimana

standarisasi

pemasangan bleketepe sebagai prosesi pernikahan adat Jawa di Desa
Manggung, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali? (2) Apa makna simbolik
pemasangan bleketepe dalam prosesi pernikahan adat Jawa di Desa Manggung,
Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali perspektif teori semiotika Roland
Barthes?. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan standarisasi
pemasangan bleketepe sebagai prosesi pernikahan adat Jawa di Desa Manggung,
Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, (2) menjelaskan makna simbolik
pemasangan bleketepe dalam prosesi pernikahan adat Jawa di Desa Manggung,
Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali perspektif semiotika Roland Barthes.
Penelitian ini bersifat lapangan (field research) dengan pendekatan
kualitatif. Kerangka teori yang digunakan adalah teori Semiotika Roland Barthes.
Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi
mengenai tradisi pemasangan bleketepe di Desa Manggung, Kecamatan
Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Untuk metode analisis data menggunakan
metode deskriptif, verstehen, dan interpretasi.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah (1) Standarisasi
pemasangan bleketepe mencakup standar bahan, bentuk, proses, dan lokasi.
Bahan utamanya anyaman daun kelapa hijau (blarak). Bentuk pakem berupa
peneduh (atap), kini beradaptasi menjadi persegi panjang. Proses dimulai dengan
ritual toto sajen dan doa bersama, dilanjutkan pemasangan kolaborasi oleh orang
tua calon mempelai wanita (ayah naik tangga, ibu dampingi di bawah). Lokasi
tradisional di tiga titik (belakang pelaminan, teras rumah, pintu masuk), tapi kini
umumnya di pasang di depan pintu masuk sebagai penanda awal prosesi suci. (2)
Berdasarkan perspektif semiotika Roland Barthes, uborampe pemasangan
bleketepe dianalisis melalui denotasi, konotasi, dan mitos. Pada tingkat denotasi,
bleketepe adalah anyaman daun kelapa sebagai atap (payon) yang menandakan
pesta pernikahan. Konotasi, bleketepe sebagai simbol penyucian diri bagi
pengantin, keluarga, dan tamu. Mitos dipercayai untuk tolak bala. Jadi, bleketepe
bukan sekadar dekorasi semata, melainkan simbol penyucian dan perlindungan.
Kata Kunci : Pemasangan bleketepe, Simbol, Roland Barthes


Ketersediaan

SK202610028.12x3 NOV m c.1PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x3)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
2x3 NOV m c.1
Penerbit Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta.,
Deskripsi Fisik
165 hlm, 30cm
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
Text
Tipe Media
Text
Tipe Pembawa
Visual
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas


Akses Repositori Institusi

Jelajahi skripsi, tesis, dan karya ilmiah civitas dalam satu portal repositori.