Detail Cantuman
Advanced SearchKOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
REPRESENTASI KELAS MENENGAH PADA FILM HOME SWEET LOAN (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)
ABSTRAK
Dinda Azzhuhra Firdausa P. NIM: 211211161. Representasi Kelas Menengah Pada Film Home sweet loan (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce). Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam. Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. UIN Raden Mas Said Surkarta. 2025
Di era modern saat ini, film telah menjadi salah satu media massa yang mampu menjangkau berbagai kalangan, dan lebih menarik perhatian publik berkat elemen audio visual yang dimilikinya. Melalui film, pesan- pesan dapat disampaikan dengan cara yang lebih efektif. Selain itu, film juga menawarkan hiburan dalam durasi tertentu, membuatnya terasa hidup dan memberikan ruang bagi imajinasi audiens. Dalam konteks ini, film Home sweet loan karya Sabrina Rochelle Kalangie film ini mengangkat isu-isu yang dekat dengan masyarakat perkotaan saat ini, seperti kesulitan memiliki rumah, ketimpangan ekonomi, dan tekanan hidup sebagai generasi produktif. tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan representasi kelas menengah pada film Home Sweet loan.
Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Peirce, dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi dan riset kepustakaan. Pada tahapan teknik analisis data semiotika Charles Sanders Peirce menggunakan segitiga triadik yaitu sign, interpretant dan object.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Home sweet loan menampilkan kelas menengah sebagai kelompok yang tidak stabil secara finansial, meskipun memiliki pendapatan tetap. Kelas menengah direpresentasikan sebagai kelompok yang hidup dalam batas antara kemampuan bertahan dan kerentanan, ditandai dengan penghematan yang ketat, keterbatasan akses terhadap kepemilikan rumah, dan tuntutan sosial yang tinggi. Tokoh Kaluna digambarkan mengalami tekanan ganda sebagai perempuan kelas menengah yang harus mengatur keuangan, menjadi penopang keluarga, serta menghadapi ekspektasi dari lingkungan pertemanan maupun pasangan. Melalui berbagai simbol seperti tabungan yang menipis, biaya hidup yang melonjak, beban keluarga, dan tuntutan konsumtif, film ini berhasil menunjukkan bahwa kelas menengah tidak hanya menghadapi masalah ekonomi, tetapi juga beban emosional dan psikologis.
Kata Kunci: Representasi, kelas menengah, film Home sweet loan, analisis semiotika Charles Sanders Peirce.
vii
ABSTRACT
Dinda Azzhuhra Firdausa P. Student ID: 211211161. Representation of the Middle Class in the Film Home sweet loan (A Semiotic Analysis by Charles Sanders Peirce). Islamic Broadcasting Communication Study Program, Faculty of Ushuluddin and Da'wah, UIN Raden Mas Said Surkarta. 2025
In today's modern era, film has become a mass media capable of reaching a wide range of audiences and attracting greater public attention thanks to its audiovisual elements. Through film, messages can be conveyed more effectively. Furthermore, films offer entertainment for a limited time, making them feel vivid and allowing the audience's imagination to thrive. In this context, Sabrina Rochelle Kalangie's film "Home Sweet Loan" raises issues familiar to today's urban society, such as the difficulty of owning a home, economic inequality, and the pressures of living as a productive generation. The purpose of this study is to describe the representation of the middle class in the film Home Sweet Loan.
This study uses Charles Sanders Peirce's semiotic analysis, employing a qualitative descriptive research method. Data collection was conducted using documentation and library research. In the data analysis stage, Charles Sanders Peirce's semiotic technique utilizes the triadic triangle: sign, interpretant, and object.
The results show that the film "Home Sweet Loan" portrays the middle class as a group that is financially unstable, despite having a steady income. The middle class is depicted as a group living on the edge between survival and vulnerability, characterized by strict austerity, limited access to home ownership, and high social demands. Kaluna is depicted as experiencing double pressure as a middle-class woman who must manage finances, support her family, and face expectations from her circle of friends and partners. Through various symbols such as dwindling savings, soaring living costs, family burdens, and consumer demands, the film successfully demonstrates that the middle class faces not only economic challenges but also emotional and psychological burdens.
Keywords: Representation, middle class, "Home sweet loan," Charles Sanders Peirce's semiotic analysis.
Ketersediaan
| SK202640013.1 | 2x7.5 PUR r c.1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2X7.5) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x7.5 PUR r c.1
|
| Penerbit | : ., 2026 |
| Deskripsi Fisik |
121 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
NONE
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
DINDA AZZHUHRA FIRDAUSA
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






