Image of ANJURAN MENIKAHKAN DALAM QS. AN-NŪR {24}: 32-33 
(Kajian Tafsir Maqāṣidī Abdul Mustaqim)

ILMU AL QUR'AN DAN TAFSIR

ANJURAN MENIKAHKAN DALAM QS. AN-NŪR {24}: 32-33 (Kajian Tafsir Maqāṣidī Abdul Mustaqim)



ABSTRAK
Muhammad Farhan Mubarok. Nim: 211111090. Anjuran Menikahkan dalam
QS. An-Nūr {24}: 32-33 (Kajian Tafsir maqāṣidi Abdul Mustaqim. Fakultas
Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
2025.
Penelitian ini berfokus pada analisis tafsir maqāṣidi Abdul Mustaqim
dalam QS. An-Nūr {24}: 32-33. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena
sosial gemophobia, yang mana ketakutan wali yang ingin menikahkan anaknya dan
seseorang yang ingin menikah sehingga seringkali menunda-nunda pernikahan,
serta eksploitasi seksual yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Dalam penelitian
ini, penulis memusatkan perhatian pada makna perintah menikahkan dan larangan
memaksa perempuan melakukan perbuatan keji (zina), dengan meninjau tujuan
tujuan syariat (maqāṣid asy-Asy-Syariah) dalam menjaga agama (Ḥifẓ al-Dīn ), jiwa
(Ḥifẓ al-Nafs), keturunan ( Ḥifẓ al-Nasl), harta ( Ḥifẓ al-Māl) dan negara ( Ḥifẓ al
Dawlah).
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi
kepustakaan sebagai pendekatan utamanya. Sumber primer dalam penelitian ini
adalah QS. An-Nūr {24}: 32-33, serta karya-karya Abdul Mustaqim yang
menjelaskan pendekatan tafsir maqāṣid. Penafsiran ayat dilakukan dengan
memahami konteks, tujuan syariat, serta relevansinya dalam kehidupan sosial
modern. Langkah-langkah tafsir dimulai dari pemahaman linguistik, historis,
maqāṣid normatif hingga penerapannya dalam konteks kekinian. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa QS. An-Nūr {24}: 32-33 tidak hanya mengatur personal
pernikahan dan larangan eksploitasi perempuan pada masa sekarang, tetapi juga
mengandung nilai-nilai universal dalam menjaga martabat manusia dan
membangun tatanan masyarakat yang bermoral.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. An-Nūr ayat 32–33 tidak
hanya mengandung perintah menikahkan, tetapi juga memuat dimensi maqāṣid al
syarī‘ah yang luas. Pertama, ḥifẓ al-nafs (menjaga jiwa) melalui pernikahan sebagai
sarana menghindari zina. Kedua, ḥifẓ al-māl (menjaga harta) melalui jaminan
rezeki bagi yang menikah serta perintah mukātabah bagi budak untuk meraih
kemandirian ekonomi. Ketiga, nilai kemanusiaan dengan larangan eksploitasi
seksual terhadap budak perempuan. Perspektif Abdul Mustaqim menegaskan
bahwa tafsir maqāṣidī harus dipahami dalam kerangka maslahat universal.
Kata Kunci: Abdul Mustaqim, Anjuran Menikahkan, Tafsir Maqāṣidi .
viii
ABSTRACK
Muhammad Farhan Mubarok. Student ID: 211111090. The Recommendation
of Marriage in the QS. An-Nūr (24): 32–33 (A Maqāṣidī Interpretation by
Abdul Mustaqim). Faculty of Ushuluddin and Da'wah, State Islamic
University (UIN) Raden Mas Said Surakarta, 2025.
This research focuses on the analysis of Abdul Mustaqim’s maqāṣidī
interpretation of QS. An-Nūr (24): 32–33. The study is motivated by the
contemporary social phenomenon of gamophobia, or fear of marriage, which often
leads to the postponement of marriage, as well as sexual exploitation that violates
humanitarian values. This study emphasizes the command to facilitate marriage and
the prohibition of forcing women into immoral acts (such as prostitution or
fornication), examined through the objectives of Islamic law (maqāṣid al-sharī‘ah),
which aim to preserve religion (ḥifẓ al-dīn), life (Ḥifẓ al-Nafs), intellect (al-‘aql),
lineage ( Ḥifẓ al-Nasl), wealth (al-māl), the state ( Ḥifẓ al-Dawlah), and the
environment ( Ḥifẓ al-Bī’ah).
This research uses a qualitative method with a library research approach.The
primary sources include QS. An-Nūr (24): 32–33 and the works of Abdul
Mustaqim, particularly those that elaborate on the maqāṣidī approach to Qur’anic
interpretation. The interpretation process involves understanding the linguistic,
historical, and normative maqāṣid context of the verses and applying their meaning
to contemporary realities. The results show that QS. An-Nūr (24): 32–33 not only
regulates personal matters such as marriage and the prohibition of female
exploitation but also contains universal values aimed at preserving human dignity
and fostering a moral society.
The findings of this study indicate that QS. An-Nūr verses 32–33 not only
contain the command to marry off individuals but also encompass broad dimensions
of maqāṣid al-sharī‘ah. First, ḥifẓ al-nafs (protection of life) through marriage as a
means of avoiding fornication. Second, ḥifẓ al-māl (protection of wealth) through
the guarantee of sustenance for those who marry as well as the command of
mukātabah for slaves to achieve economic independence. Third, humanitarian
values through the prohibition of sexual exploitation of female slaves. Abdul
Mustaqim’s perspective emphasizes that tafsīr maqāṣidī must be understood within
the framework of universal benefit (maṣlaḥah).
Keywords: Abdul Mustaqim, The Recommendation to Marry, A Maqāṣidī
Interpretation


Ketersediaan

SK202620012.12x1 MUB A c1PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2X1)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
2x1 MUB A c1
Penerbit : .,
Deskripsi Fisik
85 hlm, 30 cm
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
Text
Tipe Media
Text
Tipe Pembawa
Visual
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas



Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this