Detail Cantuman
Advanced SearchPSIKOLOGI ISLAM
DINAMIKA SELF DISCLOSURE PADA REMAJA YANG MENDAPATKAN POLA ASUH AUTHORITARIAN
ABSTRAK
Shintia Windhia Putri, 211141143, Dinamika Self Disclosure Pada Remaja
SMA Yang Mendapatkan Pola Asuh authoritarian. Program Studi Psikologi
Islam. Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Universitas Islam Negeri Raden Mas Said
Surakarta.
Keberadaan orang tua sebagai figur utama dalam keluarga berperan krusial dalam
membentuk perkembangan emosional remaja, di mana pola asuh yang hangat dan
suportif memungkinkan remaja mengembangkan self-disclosure secara sehat tanpa
diliputi rasa takut atau cemas. Namun, pada konteks pola asuh otoriter yang
cenderung menekankan kontrol dan kedisiplinan ketat, kemampuan remaja untuk
mengungkapkan diri seringkali terhambat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan dinamika self-disclosure pada remaja yang mendapatkan
pola asuh otoriter di SMAN X, Kecamatan M, Kabupaten Karanganyar, Jawa
Tengah.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis.
Informan dalam penelitian ini berjumlah tiga remaja SMA yang menunjukkan
kecenderungan mendapatkan pola asuh otoriter, yang dipilih menggunakan teknik
purposive sampling. Penentuan informan dilakukan melalui penyebaran kuesioner
sebagai tahap awal penyaringan, yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara
mendalam dan observasi. Untuk menjamin kredibilitas data, digunakan teknik
triangulasi sumber dan triangulasi metode. Analisis data dilakukan dengan
menggunakan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dari
Kahija (2017), yang mencakup tahapan membaca dan mengulang transkrip,
membuat komentar awal, mengembangkan tema-tema emergen, mencari keterkaitan
antartema, serta integrasi antarkasus, dengan bantuan perangkat lunak ATLAS.ti
dalam proses pengkodean data kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter yang menekankan kontrol
ketat dan minimnya kasih sayang dapat mendorong remaja untuk membatasi Self
disclosure dalam hal niat, jumlah, kedalaman, dan kejujuran informasi. Ketakutan
terhadap penilaian dan rendahnya kepercayaan interpersonal membuat remaja
cenderung hanya mengungkapkan hal-hal permukaan seperti opini dan preferensi,
serta menekan ekspresi emosional yang mendalam. Kondisi ini merefleksikan
respons adaptif terhadap pengasuhan yang menekan ekspresi diri dan tidak
mendukung keterbukaan dalam relasi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa pola
asuh yang suportif berperan penting dalam membentuk Self disclosure yang sehat
dan melindungi remaja dari dampak negatif terhadap identitas serta kualitas
hubungan sosialnya.
Kata Kunci: Self disclosure, Remaja, Keluarga
vii
ABSTACT
Shintia Windhia Putri, 211141143, Dynamics of Self Disclosure in High School
Teenagers Who Get Authoritarian Parenting. Islamic Psychology Study Program.
Faculty of Ushuluddin and Da'wah. Raden Mas State Islamic University Said
Surakarta.
The existence of parents as the main figures in the family plays a crucial role in
shaping adolescent emotional development, where warm and supportive parenting
allows adolescents to develop self-disclosure in a healthy manner without being
overwhelmed by fear or anxiety. However, in the context of authoritarian parenting
that tends to emphasize strict control and discipline, adolescents' ability to express
themselves is often hampered. Therefore, this study aims to describe the dynamics of
self-disclosure in adolescents who receive authoritarian parenting at SMAN X, M
District, Karanganyar Regency, Central Java.
This research is a qualitative research with a phenomenological approach. The
informants in this study were three high school teenagers who showed a tendency to
get an authoritarian parenting style, which was selected using the purposive sampling
technique. The determination of informants is carried out through the distribution of
questionnaires as the initial stage of screening, which is then followed by in-depth
interviews and observations. To ensure the credibility of the data, source
triangulation techniques and method triangulation methods are used. Data analysis
was carried out using the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) approach
from Kahija (2017), which includes the stages of reading and repeating transcripts,
making initial comments, developing emerging themes, looking for inter-themes, and
integration between cases, with the help of ATLAS.ti software in the process of coding
qualitative data.
The results of the study show that authoritarian parenting that emphasizes strict
control and lack of affection can encourage adolescents to limit self-disclosure in
terms of intention, quantity, depth, and honesty of information. Fear of judgment and
low interpersonal trust make adolescents tend to only express superficial things such
as opinions and preferences, and suppress deep emotional expression. This condition
reflects an adaptive response to parenting that suppresses self-expression and does
not support openness in social relationships. These findings confirm that supportive
parenting plays an important role in forming healthy self-disclosure and protecting
adolescents from negative impacts on their identity and the quality of their social
relationships.
Keywords: Self-disclosure, Adolescents, Family
Ketersediaan
| sk202570135.1 | 2x7.150 PUT d c.1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2X7.150) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x7.150 PUT d c.1
|
| Penerbit | : ., 2025 |
| Deskripsi Fisik |
226 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
NONE
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
SHINTIA WINDHIA PUTRI
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






