PSIKOLOGI ISLAM
SELF DISCLOSURE ETNIS TIONGHOA YANG MENGALAMI TRAUMA SINOPHOBIA DI KOTA “TIONGKOK KECIL” LASEM, REMBANG
ABSTRAK
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure Etnis Tionghoa yang Mengalami Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang. Skripsi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Trauma sinophobia yang dialami sebagian Etnis Tionghoa masih meninggalkan dampak emosional, terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban atau yang menyaksikan langsung adanya diskriminasi. Dalam kehidupan bersosial, hal tersebut memunculkan kecenderungan untuk bersikap lebih tertutup dan berhati-hati dalam melakukan interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa trauma masa lalu akibat kesejarahan kronis yang dialami Etnis Tionghoa mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Self Disclosure Etnis Tionghoa yang memiliki Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi yang dilakukan di Lasem, Rembang atau yang dikenal dengan sebutan “Tiongkok Kecil”. Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang merupakan Etnis Tionghoa Lasem, pernah mengalami atau menyaksikan diskriminasi, serta tergolong ke dalam generasi X. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatif dengan pencatatannya naratif deskriptif, dan dokumentasi. Kredibilitas data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Adapun analisis datanya menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) milik Eatough dan Smith (2017) dengan teknik analisisnya, yaitu: membaca ulang data, mengidentifikasi tema, analisis tema, dan pengembangan konsep yang dibantu dengan coding Atlas.t.i.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self disclosure pada Etnis Tionghoa di Lasem yang mengalami trauma sinophobia terjadi secara bertahap. Proses ini dimulai dari pengalaman traumatis, penguatan identitas etnis, hingga penerapan strategi untuk menghadapi situasi secara positif. Adanya trauma sinophobia tersebut membuat informan lebih berhati-hati dan selektif dalam membuka diri. Meskipun begitu, informan tetap menjaga identitas Tionghoa dan mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar. Hal ini didukung oleh lingkungan sosial Lasem yang cenderung terbuka dan toleran terhadap perbedaan, sehingga dapat menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa self disclosure tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan trauma, tetapi juga sebagai kontribusi aktif dalam menciptakan masyarakat yang harmonis.
Kata kunci: Self Disclosure, Etnis Tionghoa, Trauma Sinophobia, Fenomenologi
ABSTRACT
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure of Chinese Ethnic Groups Experiencing Sinophobia Trauma in the “Little Tiongkok” City of Lasem, Rembang. Islamic Psychology Thesis, Raden Mas Said State Islamic University, Surakarta.
The trauma of sinophobia experienced by some Ethnic Chinese still leaves an emotional impact, especially for those who have been victims or who witnessed discrimination firsthand. In social life, this has led to a tendency to be more closed and cautious in interactions. This suggests that the chronic historical trauma experienced by Ethnic Chinese affects the way they build social relationships. This study aims to explore the Self Disclosure of Ethnic Chinese who have Sinophobia Trauma in the “Little China” City of Lasem, Rembang.
This research is a phenomenological qualitative research conducted in Lasem, Rembang or known as “Little China”. The informants in this research amounted to 3 people who are Lasem ethnic Chinese, have experienced or witnessed discrimination, and belong to the X generation. This research uses data collection techniques with semi-structured interviews, non-participatory observation with descriptive narrative notes, and documentation. The credibility of the data used source triangulation and technique triangulation techniques. The data analysis used Eatough and Smith's (2017) interpretative phenomenological analysis (IPA) with its analysis techniques, namely: rereading data, identifying themes, analyzing themes, and developing concepts assisted by Atlas.t.i coding.
The results showed that self-disclosure in ethnic Chinese in Lasem who experienced the trauma of sinophobia occurred gradually. This process starts from traumatic experiences, strengthening ethnic identity, to applying strategies to deal with situations positively. The existence of sinophobia trauma makes informants more careful and selective in opening up. Even so, informants still maintain their Chinese identity and are able to establish good social relations with the surrounding community. This is supported by Lasem's social environment which tends to be open and tolerant of differences, thus providing a safe space for them to express themselves. Thus, it can be concluded that self-disclosure does not only function as a trauma recovery effort, but also as an active contribution in creating a harmonious society.
Keyword: Self Disclosure, Chinese Ethnic, Sinophobia Trauma, Phenomenology
ABSTRAK
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure Etnis Tionghoa yang Mengalami Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang. Skripsi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Trauma sinophobia yang dialami sebagian Etnis Tionghoa masih meninggalkan dampak emosional, terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban atau yang menyaksikan langsung adanya diskriminasi. Dalam kehidupan bersosial, hal tersebut memunculkan kecenderungan untuk bersikap lebih tertutup dan berhati-hati dalam melakukan interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa trauma masa lalu akibat kesejarahan kronis yang dialami Etnis Tionghoa mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Self Disclosure Etnis Tionghoa yang memiliki Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi yang dilakukan di Lasem, Rembang atau yang dikenal dengan sebutan “Tiongkok Kecil”. Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang merupakan Etnis Tionghoa Lasem, pernah mengalami atau menyaksikan diskriminasi, serta tergolong ke dalam generasi X. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatif dengan pencatatannya naratif deskriptif, dan dokumentasi. Kredibilitas data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Adapun analisis datanya menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) milik Eatough dan Smith (2017) dengan teknik analisisnya, yaitu: membaca ulang data, mengidentifikasi tema, analisis tema, dan pengembangan konsep yang dibantu dengan coding Atlas.t.i.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self disclosure pada Etnis Tionghoa di Lasem yang mengalami trauma sinophobia terjadi secara bertahap. Proses ini dimulai dari pengalaman traumatis, penguatan identitas etnis, hingga penerapan strategi untuk menghadapi situasi secara positif. Adanya trauma sinophobia tersebut membuat informan lebih berhati-hati dan selektif dalam membuka diri. Meskipun begitu, informan tetap menjaga identitas Tionghoa dan mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar. Hal ini didukung oleh lingkungan sosial Lasem yang cenderung terbuka dan toleran terhadap perbedaan, sehingga dapat menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa self disclosure tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan trauma, tetapi juga sebagai kontribusi aktif dalam menciptakan masyarakat yang harmonis.
Kata kunci: Self Disclosure, Etnis Tionghoa, Trauma Sinophobia, Fenomenologi
ABSTRACT
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure of Chinese Ethnic Groups Experiencing Sinophobia Trauma in the “Little Tiongkok” City of Lasem, Rembang. Islamic Psychology Thesis, Raden Mas Said State Islamic University, Surakarta.
The trauma of sinophobia experienced by some Ethnic Chinese still leaves an emotional impact, especially for those who have been victims or who witnessed discrimination firsthand. In social life, this has led to a tendency to be more closed and cautious in interactions. This suggests that the chronic historical trauma experienced by Ethnic Chinese affects the way they build social relationships. This study aims to explore the Self Disclosure of Ethnic Chinese who have Sinophobia Trauma in the “Little China” City of Lasem, Rembang.
This research is a phenomenological qualitative research conducted in Lasem, Rembang or known as “Little China”. The informants in this research amounted to 3 people who are Lasem ethnic Chinese, have experienced or witnessed discrimination, and belong to the X generation. This research uses data collection techniques with semi-structured interviews, non-participatory observation with descriptive narrative notes, and documentation. The credibility of the data used source triangulation and technique triangulation techniques. The data analysis used Eatough and Smith's (2017) interpretative phenomenological analysis (IPA) with its analysis techniques, namely: rereading data, identifying themes, analyzing themes, and developing concepts assisted by Atlas.t.i coding.
The results showed that self-disclosure in ethnic Chinese in Lasem who experienced the trauma of sinophobia occurred gradually. This process starts from traumatic experiences, strengthening ethnic identity, to applying strategies to deal with situations positively. The existence of sinophobia trauma makes informants more careful and selective in opening up. Even so, informants still maintain their Chinese identity and are able to establish good social relations with the surrounding community. This is supported by Lasem's social environment which tends to be open and tolerant of differences, thus providing a safe space for them to express themselves. Thus, it can be concluded that self-disclosure does not only function as a trauma recovery effort, but also as an active contribution in creating a harmonious society.
Keyword: Self Disclosure, Chinese Ethnic, Sinophobia Trauma, Phenomenology
ABSTRAK
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure Etnis Tionghoa yang Mengalami Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang. Skripsi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Trauma sinophobia yang dialami sebagian Etnis Tionghoa masih meninggalkan dampak emosional, terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban atau yang menyaksikan langsung adanya diskriminasi. Dalam kehidupan bersosial, hal tersebut memunculkan kecenderungan untuk bersikap lebih tertutup dan berhati-hati dalam melakukan interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa trauma masa lalu akibat kesejarahan kronis yang dialami Etnis Tionghoa mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Self Disclosure Etnis Tionghoa yang memiliki Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi yang dilakukan di Lasem, Rembang atau yang dikenal dengan sebutan “Tiongkok Kecil”. Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang merupakan Etnis Tionghoa Lasem, pernah mengalami atau menyaksikan diskriminasi, serta tergolong ke dalam generasi X. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatif dengan pencatatannya naratif deskriptif, dan dokumentasi. Kredibilitas data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Adapun analisis datanya menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) milik Eatough dan Smith (2017) dengan teknik analisisnya, yaitu: membaca ulang data, mengidentifikasi tema, analisis tema, dan pengembangan konsep yang dibantu dengan coding Atlas.t.i.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self disclosure pada Etnis Tionghoa di Lasem yang mengalami trauma sinophobia terjadi secara bertahap. Proses ini dimulai dari pengalaman traumatis, penguatan identitas etnis, hingga penerapan strategi untuk menghadapi situasi secara positif. Adanya trauma sinophobia tersebut membuat informan lebih berhati-hati dan selektif dalam membuka diri. Meskipun begitu, informan tetap menjaga identitas Tionghoa dan mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar. Hal ini didukung oleh lingkungan sosial Lasem yang cenderung terbuka dan toleran terhadap perbedaan, sehingga dapat menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa self disclosure tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan trauma, tetapi juga sebagai kontribusi aktif dalam menciptakan masyarakat yang harmonis.
Kata kunci: Self Disclosure, Etnis Tionghoa, Trauma Sinophobia, Fenomenologi
ABSTRACT
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure of Chinese Ethnic Groups Experiencing Sinophobia Trauma in the “Little Tiongkok” City of Lasem, Rembang. Islamic Psychology Thesis, Raden Mas Said State Islamic University, Surakarta.
The trauma of sinophobia experienced by some Ethnic Chinese still leaves an emotional impact, especially for those who have been victims or who witnessed discrimination firsthand. In social life, this has led to a tendency to be more closed and cautious in interactions. This suggests that the chronic historical trauma experienced by Ethnic Chinese affects the way they build social relationships. This study aims to explore the Self Disclosure of Ethnic Chinese who have Sinophobia Trauma in the “Little China” City of Lasem, Rembang.
This research is a phenomenological qualitative research conducted in Lasem, Rembang or known as “Little China”. The informants in this research amounted to 3 people who are Lasem ethnic Chinese, have experienced or witnessed discrimination, and belong to the X generation. This research uses data collection techniques with semi-structured interviews, non-participatory observation with descriptive narrative notes, and documentation. The credibility of the data used source triangulation and technique triangulation techniques. The data analysis used Eatough and Smith's (2017) interpretative phenomenological analysis (IPA) with its analysis techniques, namely: rereading data, identifying themes, analyzing themes, and developing concepts assisted by Atlas.t.i coding.
The results showed that self-disclosure in ethnic Chinese in Lasem who experienced the trauma of sinophobia occurred gradually. This process starts from traumatic experiences, strengthening ethnic identity, to applying strategies to deal with situations positively. The existence of sinophobia trauma makes informants more careful and selective in opening up. Even so, informants still maintain their Chinese identity and are able to establish good social relations with the surrounding community. This is supported by Lasem's social environment which tends to be open and tolerant of differences, thus providing a safe space for them to express themselves. Thus, it can be concluded that self-disclosure does not only function as a trauma recovery effort, but also as an active contribution in creating a harmonious society.
Keyword: Self Disclosure, Chinese Ethnic, Sinophobia Trauma, Phenomenology
ABSTRAK
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure Etnis Tionghoa yang Mengalami Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang. Skripsi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Trauma sinophobia yang dialami sebagian Etnis Tionghoa masih meninggalkan dampak emosional, terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban atau yang menyaksikan langsung adanya diskriminasi. Dalam kehidupan bersosial, hal tersebut memunculkan kecenderungan untuk bersikap lebih tertutup dan berhati-hati dalam melakukan interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa trauma masa lalu akibat kesejarahan kronis yang dialami Etnis Tionghoa mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Self Disclosure Etnis Tionghoa yang memiliki Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi yang dilakukan di Lasem, Rembang atau yang dikenal dengan sebutan “Tiongkok Kecil”. Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang merupakan Etnis Tionghoa Lasem, pernah mengalami atau menyaksikan diskriminasi, serta tergolong ke dalam generasi X. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatif dengan pencatatannya naratif deskriptif, dan dokumentasi. Kredibilitas data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Adapun analisis datanya menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) milik Eatough dan Smith (2017) dengan teknik analisisnya, yaitu: membaca ulang data, mengidentifikasi tema, analisis tema, dan pengembangan konsep yang dibantu dengan coding Atlas.t.i.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self disclosure pada Etnis Tionghoa di Lasem yang mengalami trauma sinophobia terjadi secara bertahap. Proses ini dimulai dari pengalaman traumatis, penguatan identitas etnis, hingga penerapan strategi untuk menghadapi situasi secara positif. Adanya trauma sinophobia tersebut membuat informan lebih berhati-hati dan selektif dalam membuka diri. Meskipun begitu, informan tetap menjaga identitas Tionghoa dan mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar. Hal ini didukung oleh lingkungan sosial Lasem yang cenderung terbuka dan toleran terhadap perbedaan, sehingga dapat menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa self disclosure tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan trauma, tetapi juga sebagai kontribusi aktif dalam menciptakan masyarakat yang harmonis.
Kata kunci: Self Disclosure, Etnis Tionghoa, Trauma Sinophobia, Fenomenologi
ABSTRACT
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure of Chinese Ethnic Groups Experiencing Sinophobia Trauma in the “Little Tiongkok” City of Lasem, Rembang. Islamic Psychology Thesis, Raden Mas Said State Islamic University, Surakarta.
The trauma of sinophobia experienced by some Ethnic Chinese still leaves an emotional impact, especially for those who have been victims or who witnessed discrimination firsthand. In social life, this has led to a tendency to be more closed and cautious in interactions. This suggests that the chronic historical trauma experienced by Ethnic Chinese affects the way they build social relationships. This study aims to explore the Self Disclosure of Ethnic Chinese who have Sinophobia Trauma in the “Little China” City of Lasem, Rembang.
This research is a phenomenological qualitative research conducted in Lasem, Rembang or known as “Little China”. The informants in this research amounted to 3 people who are Lasem ethnic Chinese, have experienced or witnessed discrimination, and belong to the X generation. This research uses data collection techniques with semi-structured interviews, non-participatory observation with descriptive narrative notes, and documentation. The credibility of the data used source triangulation and technique triangulation techniques. The data analysis used Eatough and Smith's (2017) interpretative phenomenological analysis (IPA) with its analysis techniques, namely: rereading data, identifying themes, analyzing themes, and developing concepts assisted by Atlas.t.i coding.
The results showed that self-disclosure in ethnic Chinese in Lasem who experienced the trauma of sinophobia occurred gradually. This process starts from traumatic experiences, strengthening ethnic identity, to applying strategies to deal with situations positively. The existence of sinophobia trauma makes informants more careful and selective in opening up. Even so, informants still maintain their Chinese identity and are able to establish good social relations with the surrounding community. This is supported by Lasem's social environment which tends to be open and tolerant of differences, thus providing a safe space for them to express themselves. Thus, it can be concluded that self-disclosure does not only function as a trauma recovery effort, but also as an active contribution in creating a harmonious society.
Keyword: Self Disclosure, Chinese Ethnic, Sinophobia Trauma, Phenomenology
ABSTRAK
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure Etnis Tionghoa yang Mengalami Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang. Skripsi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Trauma sinophobia yang dialami sebagian Etnis Tionghoa masih meninggalkan dampak emosional, terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban atau yang menyaksikan langsung adanya diskriminasi. Dalam kehidupan bersosial, hal tersebut memunculkan kecenderungan untuk bersikap lebih tertutup dan berhati-hati dalam melakukan interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa trauma masa lalu akibat kesejarahan kronis yang dialami Etnis Tionghoa mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Self Disclosure Etnis Tionghoa yang memiliki Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi yang dilakukan di Lasem, Rembang atau yang dikenal dengan sebutan “Tiongkok Kecil”. Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang merupakan Etnis Tionghoa Lasem, pernah mengalami atau menyaksikan diskriminasi, serta tergolong ke dalam generasi X. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatif dengan pencatatannya naratif deskriptif, dan dokumentasi. Kredibilitas data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Adapun analisis datanya menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) milik Eatough dan Smith (2017) dengan teknik analisisnya, yaitu: membaca ulang data, mengidentifikasi tema, analisis tema, dan pengembangan konsep yang dibantu dengan coding Atlas.t.i.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self disclosure pada Etnis Tionghoa di Lasem yang mengalami trauma sinophobia terjadi secara bertahap. Proses ini dimulai dari pengalaman traumatis, penguatan identitas etnis, hingga penerapan strategi untuk menghadapi situasi secara positif. Adanya trauma sinophobia tersebut membuat informan lebih berhati-hati dan selektif dalam membuka diri. Meskipun begitu, informan tetap menjaga identitas Tionghoa dan mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar. Hal ini didukung oleh lingkungan sosial Lasem yang cenderung terbuka dan toleran terhadap perbedaan, sehingga dapat menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa self disclosure tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan trauma, tetapi juga sebagai kontribusi aktif dalam menciptakan masyarakat yang harmonis.
Kata kunci: Self Disclosure, Etnis Tionghoa, Trauma Sinophobia, Fenomenologi
ABSTRACT
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure of Chinese Ethnic Groups Experiencing Sinophobia Trauma in the “Little Tiongkok” City of Lasem, Rembang. Islamic Psychology Thesis, Raden Mas Said State Islamic University, Surakarta.
The trauma of sinophobia experienced by some Ethnic Chinese still leaves an emotional impact, especially for those who have been victims or who witnessed discrimination firsthand. In social life, this has led to a tendency to be more closed and cautious in interactions. This suggests that the chronic historical trauma experienced by Ethnic Chinese affects the way they build social relationships. This study aims to explore the Self Disclosure of Ethnic Chinese who have Sinophobia Trauma in the “Little China” City of Lasem, Rembang.
This research is a phenomenological qualitative research conducted in Lasem, Rembang or known as “Little China”. The informants in this research amounted to 3 people who are Lasem ethnic Chinese, have experienced or witnessed discrimination, and belong to the X generation. This research uses data collection techniques with semi-structured interviews, non-participatory observation with descriptive narrative notes, and documentation. The credibility of the data used source triangulation and technique triangulation techniques. The data analysis used Eatough and Smith's (2017) interpretative phenomenological analysis (IPA) with its analysis techniques, namely: rereading data, identifying themes, analyzing themes, and developing concepts assisted by Atlas.t.i coding.
The results showed that self-disclosure in ethnic Chinese in Lasem who experienced the trauma of sinophobia occurred gradually. This process starts from traumatic experiences, strengthening ethnic identity, to applying strategies to deal with situations positively. The existence of sinophobia trauma makes informants more careful and selective in opening up. Even so, informants still maintain their Chinese identity and are able to establish good social relations with the surrounding community. This is supported by Lasem's social environment which tends to be open and tolerant of differences, thus providing a safe space for them to express themselves. Thus, it can be concluded that self-disclosure does not only function as a trauma recovery effort, but also as an active contribution in creating a harmonious society.
Keyword: Self Disclosure, Chinese Ethnic, Sinophobia Trauma, Phenomenology
ABSTRAK
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure Etnis Tionghoa yang Mengalami Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang. Skripsi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Trauma sinophobia yang dialami sebagian Etnis Tionghoa masih meninggalkan dampak emosional, terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban atau yang menyaksikan langsung adanya diskriminasi. Dalam kehidupan bersosial, hal tersebut memunculkan kecenderungan untuk bersikap lebih tertutup dan berhati-hati dalam melakukan interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa trauma masa lalu akibat kesejarahan kronis yang dialami Etnis Tionghoa mempengaruhi cara mereka dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Self Disclosure Etnis Tionghoa yang memiliki Trauma Sinophobia di Kota “Tiongkok Kecil” Lasem, Rembang.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi yang dilakukan di Lasem, Rembang atau yang dikenal dengan sebutan “Tiongkok Kecil”. Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang merupakan Etnis Tionghoa Lasem, pernah mengalami atau menyaksikan diskriminasi, serta tergolong ke dalam generasi X. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatif dengan pencatatannya naratif deskriptif, dan dokumentasi. Kredibilitas data penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Adapun analisis datanya menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA) milik Eatough dan Smith (2017) dengan teknik analisisnya, yaitu: membaca ulang data, mengidentifikasi tema, analisis tema, dan pengembangan konsep yang dibantu dengan coding Atlas.t.i.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self disclosure pada Etnis Tionghoa di Lasem yang mengalami trauma sinophobia terjadi secara bertahap. Proses ini dimulai dari pengalaman traumatis, penguatan identitas etnis, hingga penerapan strategi untuk menghadapi situasi secara positif. Adanya trauma sinophobia tersebut membuat informan lebih berhati-hati dan selektif dalam membuka diri. Meskipun begitu, informan tetap menjaga identitas Tionghoa dan mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sekitar. Hal ini didukung oleh lingkungan sosial Lasem yang cenderung terbuka dan toleran terhadap perbedaan, sehingga dapat menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa self disclosure tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan trauma, tetapi juga sebagai kontribusi aktif dalam menciptakan masyarakat yang harmonis.
Kata kunci: Self Disclosure, Etnis Tionghoa, Trauma Sinophobia, Fenomenologi
ABSTRACT
Aninda Aulia Latifa (211141125). Self Disclosure of Chinese Ethnic Groups Experiencing Sinophobia Trauma in the “Little Tiongkok” City of Lasem, Rembang. Islamic Psychology Thesis, Raden Mas Said State Islamic University, Surakarta.
The trauma of sinophobia experienced by some Ethnic Chinese still leaves an emotional impact, especially for those who have been victims or who witnessed discrimination firsthand. In social life, this has led to a tendency to be more closed and cautious in interactions. This suggests that the chronic historical trauma experienced by Ethnic Chinese affects the way they build social relationships. This study aims to explore the Self Disclosure of Ethnic Chinese who have Sinophobia Trauma in the “Little China” City of Lasem, Rembang.
This research is a phenomenological qualitative research conducted in Lasem, Rembang or known as “Little China”. The informants in this research amounted to 3 people who are Lasem ethnic Chinese, have experienced or witnessed discrimination, and belong to the X generation. This research uses data collection techniques with semi-structured interviews, non-participatory observation with descriptive narrative notes, and documentation. The credibility of the data used source triangulation and technique triangulation techniques. The data analysis used Eatough and Smith's (2017) interpretative phenomenological analysis (IPA) with its analysis techniques, namely: rereading data, identifying themes, analyzing themes, and developing concepts assisted by Atlas.t.i coding.
The results showed that self-disclosure in ethnic Chinese in Lasem who experienced the trauma of sinophobia occurred gradually. This process starts from traumatic experiences, strengthening ethnic identity, to applying strategies to deal with situations positively. The existence of sinophobia trauma makes informants more careful and selective in opening up. Even so, informants still maintain their Chinese identity and are able to establish good social relations with the surrounding community. This is supported by Lasem's social environment which tends to be open and tolerant of differences, thus providing a safe space for them to express themselves. Thus, it can be concluded that self-disclosure does not only function as a trauma recovery effort, but also as an active contribution in creating a harmonious society.
Keyword: Self Disclosure, Chinese Ethnic, Sinop
Ketersediaan
| SK202570081.1 | 2x7.150 LAT | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x7.150) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x7.150 LAT
|
| Penerbit | Fakultas Ushuluddin dan Dakwah : Surakarta., 2025 |
| Deskripsi Fisik |
225 Hlm , 30cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
2x7.150 LAT
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
-
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






