Detail Cantuman
Advanced SearchILMU AL QUR'AN DAN TAFSIR
RAGAM ISTILAH HUJAN DALAM AL-QUR’AN ( Kajian Integrasi- Interkoneksi antara Ilmu Sains dan Al-Qur’an)
ABSTRAK
Khoiru Masithoh. NIM: 211111016. Ragam Istilah Hujan Dalam Al-Qur’an (Kajian Integrasi-Interkoneksi antara Ilmu Sains Al-Qur’an). Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. 2025
Fenomena hujan merupakan bagian penting dalam kehidupan makhluk hidup dan berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Dalam Al-Qur’an, hujan tidak hanya dipahami sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai tanda kekuasaan Allah yang mengandung nilai-nilai teologis dan ekologis. Al-Qur’an menggunakan berbagai istilah untuk menggambarkan hujan, seperti Maṭar, Ghayth, Anzala Māʾ, dan Wadq, yang masing-masing memiliki konteks dan makna tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna dari istilah-istilah tersebut dalam Al-Qur’an, serta mengaitkannya dengan pengetahuan sains tentang proses hujan melalui pendekatan integrasi-interkoneksi antara wahyu dan ilmu pengetahuan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research (penelitian kepustakaan). Sumber utama berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat istilah terkait hujan, serta kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Al-Misbah, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Kementerian Agama RI. Sumber sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah dan literatur sains yang relevan dalam bidang hidrologi, meteorologi, dan ekologi. Pendekatan tematik (maudhū‘ī) digunakan untuk mengelompokkan ayat-ayat berdasarkan istilahnya, sementara pendekatan integrasi-interkoneksi M. Amin Abdullah digunakan untuk menghubungkan makna keagamaan dengan realitas ilmiah secara harmonis dan kontekstual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah Maṭar dalam Al-Qur’an sering digunakan dalam konteks azab atau peringatan akibat perilaku menyimpang manusia, sementara Ghayth lebih banyak menunjukkan makna hujan sebagai rahmat, pertolongan, dan kehidupan. Anzala Māʾ menggambarkan proses turunnya air dari langit sebagai bagian dari sistem yang teratur dan seimbang, sejalan dengan konsep siklus hidrologi dalam sains. Adapun Wadq merujuk pada curahan hujan ringan yang memiliki manfaat ekologis penting seperti mendukung infiltrasi air dan mencegah bencana. Penelitian ini juga menemukan bahwa pemahaman terhadap istilah-istilah hujan dalam Al-Qur’an dapat memperkuat kesadaran ekologis, mendorong konservasi lingkungan, serta memperkaya perspektif tafsir melalui penggabungan antara ilmu wahyu dan ilmu empiris. Dengan demikian, pendekatan integrasi-interkoneksi terbukti mampu menghadirkan pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap teks Al-Qur’an dan fenomena alam yang terus berkembang.
Kata Kunci: Hujan, Qur’an, Sains, Integrasi-interkoneksi
ABSTRACT
Khoiru Masithoh. Student ID: 211111016. The Diversity of Rain Terms in the Qur'an (An Integration-Interconnection Study with the Qur'anic Science). Department of Qur'anic and Tafsir Studies. Faculty of Ushuluddin and Da'wah. Raden Mas Said State Islamic University Surakarta. 2025.
The phenomenon of rain is an important part of the lives of living things and plays a role in maintaining the balance of the earth's ecosystem. In the Qur'an, rain is not only understood as a natural phenomenon, but also as a sign of Allah's power that contains theological and ecological values. The Qur'an uses various terms to describe rain, such as Maṭar, Ghayth, Anzala Māʾ, and Wadq, each of which has its own context and meaning. This study aims to examine the meaning of these terms in the Qur'an, and to relate them to scientific knowledge about the rain process through an integration-interconnection approach between revelation and science. This study uses a qualitative method with a library research approach. The main sources come from verses of the Qur'an that contain terms related to rain, as well as books of interpretation such as Tafsir Al-Misbah, Tafsir Ibnu Katsir, and Tafsir of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. Secondary sources are obtained from scientific journals and relevant scientific literature in the fields of hydrology, meteorology, and ecology. The thematic approach (maudhū‘ī) is used to group verses based on their terms, while M. Amin Abdullah's integration-interconnection approach is used to connect religious meanings with scientific realities harmoniously and contextually.
The results of the study show that the term Maṭar in the Qur'an is often used in the context of punishment or warning due to deviant human behavior, while Ghayth more often shows the meaning of rain as a blessing, help, and life. Anzala Māʾ describes the process of water falling from the sky as part of a regular and balanced system, in line with the concept of the hydrological cycle in science. Wadq refers to light rainfall that has important ecological benefits such as supporting water infiltration and preventing disasters. This study also found that understanding the terms of rain in the Qur'an can strengthen ecological awareness, encourage environmental conservation, and enrich the perspective of interpretation through the combination of revealed science and empirical science. Thus, the integration-interconnection approach has proven to be able to provide a more comprehensive understanding of the text of the Qur'an and natural phenomena that continue to develop.
Keywords: Rain, Qur'an, Science, Integration-interconnection
Ketersediaan
| sk202520063.1 | 2x1 MAS r c1 | PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2X1) | Tersedia |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
2x1 MAS r c1
|
| Penerbit | : ., 2025 |
| Deskripsi Fisik |
98 hlm, 30 cm
|
| Bahasa |
Bahasa Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
NONE
|
| Tipe Isi |
Text
|
| Tipe Media |
Text
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
Visual
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
Khoiru Masithoh
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






