Image of TRADISI PADUSAN DI UMBUL SIGEDANG: PERSEPSI TOKOH AGAMA ISLAM (Studi Kasus di Umbul Sigedang Kapiler Kabupaten Klaten)

AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM

TRADISI PADUSAN DI UMBUL SIGEDANG: PERSEPSI TOKOH AGAMA ISLAM (Studi Kasus di Umbul Sigedang Kapiler Kabupaten Klaten)



ABSTAK
Perkembangan zaman modern ini banyak masyarakat yang kurang dalam mengambil nilai spiritual maupun simbolik dalam Padusan, disebabkan oleh kultur yang mengikuti perkembangan zaman sehingga nilai-nilai yang melekat tidak sekental pada mulanya Tradisi Padusan hadir di masyarakat Jawa. Fenomena yang dilansir diketahui ketika mendekati bulan Ramadhan banyak masyarakat yang
berniat Padusan untuk menyucikan diri di Umbul Sigedang Kapiler. Akan tetapi pada fenomena ini kaum laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom tidak dipisah atau bercampur pada satu kolam yang sama. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang mengkaji tentang Tradisi Padusan sebagai Wujud Budaya Jawa dan Aqidah Islam: Kajian Terhadap Tokoh Agama (Studi Kasus di Umbul Kapilaer Kabupaten Klaten), pengumpulan data yang disajikan berupa wawancara, observasi, dokumentasi jika diperlukan. Analisis data menggunakan pendekatan Deskriptif, Kesinambungan Historis, Verstehen dan Interprestasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Budaya lokal yang memiliki makna simbolik dan spiritual yang mendalam. Tradisi ini dipahami sebagai ritual penyucian diri secara fisik dan batiniah menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Dalam perspektif masyarakat Jawa, padusan bukan sekadar mandi atau membersihkan tubuh, melainkan juga upaya menata diri agar lebih siap secara rohani dalam menyambut bulan ibadah. Padusan juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial masyarakat, menciptakan suasana kebersamaan, serta memperkuat identitas budaya daerah. Faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan pandangan masyarakat tentang tradisi padusan di Umbul Sigedang, Klaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan persepsi muncul dari: (1) faktor agama antara kelompok yang menekankan kesesuaian syariat Islam dengan yang lebih fleksibel; (2) perubahan sosial budaya yang menggeser nilai sakral ke rekreatif; (3) komersialisasi pariwisata; (4) kesenjangan generasi dalam memaknai tradisi; serta (5) ketegangan antara nilai komunal dan individual. Temuan ini merekomendasikan pendekatan berimbang antara pelestarian nilai tradisi dan adaptasi terhadap perubahan sosial, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Kata Kunci: Tradisi, Padusan, Persepsi


Ketersediaan

SK202510026.12X3 RIF t c.1PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2X3)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
2X3
Penerbit : .,
Deskripsi Fisik
30 cm., 87 hlm
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
Text
Tipe Media
Text
Tipe Pembawa
Visual
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas



Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this