Image of SIHIR DALAM AL-QUR’AN
(KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)

ILMU AL QUR'AN DAN TAFSIR

SIHIR DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)



ABSTRAK
Ahmad Setyawan NIM: 191111069. Sihir Dalam Al-Qur’an (Kajian Semiotika Roland Barthes). Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta. 2025.

Sihir bagaimanapun bentuknya akan menjadi fenomena yang unik dalam dinamika masyarakat dan kebudayaan. Al-Qur’an banyak membahas mengenai sihir yang terjadi sejak zaman nabi Musa hingga nabi Muhammad. Nyatanya, modernitas zaman tidak bisa dijadikan sebagai Batasan bagi manusia untuk melakukan kategorisasi umat. Rasionalitas dalam berpikir yang menjadi penciri khas manusia modern tidak bisa memutus kepercayaan mereka terhadap sihir. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan analisis semiotika terhadap sihir dalam al-Qur’an.
Penelitian ini menggunakan Library research (penelitian kepustakaan) dengan sumber data primer berupa Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah: 102, QS. Al-A’raf: 116-117, QS. Taha: 66-69 dan QS. Yunus 81-82 serta sumber data sekunder dari berbagai buku, artikel jurnal, dan sumber bacaan terkait penelitian ini. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi dengan cara mengumpulkan, membaca dan menelaah buku, jurnal, skripsi, atau literatur lainnya yang berkaitan dengan ayat-ayat sihir dalam al-Qur’an. Data yang telah penulis kumpulkan kemudian penulis analisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes agar diperoleh hasil penelitian secara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sihir dalam al-Qur’an mempunyai beragam arti dan pemaknaan sesuai dengan ayat yang menyebutkannya. Namun, dari keseluruhan ayat tersebut mempunyai titik kesamaan yaitu sihir dapat dikatakan suatu bentuk tipu daya setan yang dilakukan oleh para ahli sihir untuk mengelabui pandangan manusia, hal ini menunjukkan eksistensi sihir sendiri nyata keberadaannya. Akan tetapi, sihir tidak mungkin unggul atas kehendak-Nya karena Allah Swt, menganggap apa yang mereka perbuat adalah suatu bentuk kesesatan. Lalu analisis semiotika Roland Barthes tentang Sihir dalam Al-Qur’an dapat diketahui pada semiotika tingkat pertama sihir memiliki makna denotasi yaitu Setan mengajarkan sihir sedang Sulaiman tidak, ahli sihir menipu pandangan orang, apa yang dilakukan ahli sihir adalah kebohongan, dan ahli sihir berusaha menipu pandangan manusia. Kemudian pada semiotika tingkat kedua sihir memiliki makna konotasi yaitu Sulaiman tidak pantas dituduh penyebar sihir karena setan yang melakukannya, sihir adalah tipu daya mata, perlindungan Allah atas tipu daya sihir, dan sihir hanyalah tipuan mata yang tidak akan bertahan lama.

Kata Kunci: Sihir, Al-Qur’an, Roland Barthes


Ketersediaan

SK202520043.12x1 AHM S c.1PERPUSTAKAAN FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH (2x1)Tersedia

Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
2x1
Penerbit : .,
Deskripsi Fisik
102 hlm, 30 cm
Bahasa
Bahasa Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
Text
Tipe Media
Text
Tipe Pembawa
Visual
Edisi
-
Subyek
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas



Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this